Cerita yang Tak Perlu Selesai🌷
Jejak Sunyi - 20 Juni 2025
Malam ini hujan turun pelan. Bukan hujan deras yang ribut, tapi
cukup untuk membuat suasana jadi sepi dan hati mudah mengenang.
Aku baru saja menyelesaikan satu mimpiku. Bukan mimpi yang
sepenuhnya aku inginkan, tapi tetap terasa seperti pencapaian. Rasanya seperti
baru kemarin aku duduk menatap layar, stres karena revisi, seminar proposal,
dan segala proses yang buat aku ingin menyerah. Tapi di tengah semua itu, ada
satu momen yang masih aku ingat yaitu kamu. Kamu yang pernah nemenin aku di
fase itu. Saat semua terasa berat, kamu hadir dengan dukungan, semangat, dan
doa yang sederhana... tapi berarti.
Bukan cuma itu, kamu juga jadi bagian dari masa di mana aku ngerasa
hidupku penuh harapan. Masa di mana semuanya terasa lebih ringan hanya karena
kamu ada.
Masa yang sering aku sebut sebagai puncak butterfly era, masa yang bikin
aku senyum-senyum sendiri tanpa alasan.
Padahal rasa itu sudah tumbuh sejak masa putih biru. Tapi aku
simpan, dan waktu ternyata mempertemukan kita lagi di fase yang nggak pernah
aku sangka. Lucu, ya? Kita sempat saling hadir lagi di titik yang berbeda. Dan
sekarang, setelah semua proses itu selesai, aku akhirnya sampai di garis akhir
pendidikan S1. Meskipun belum pencapaian terbesar, aku tetap bangga bisa sampai
di titik ini.
Tapi jujur… perasaan itu belum sepenuhnya pergi. Setelah komunikasi
kita terputus, aku sering berharap kamu tiba-tiba muncul lagi. Walau aku tahu…
itu cuma angan-angan. Aku masih ingat, waktu itu aku pernah minta kamu bantuin
buatin motto skripsi. Tapi kamu nolak, dengan alasan yang aku pahami. Meski
begitu, aku sempat membayangkan, betapa indahnya kalau hasil karyaku punya
sedikit jejak darimu. Tapi ya… aku tetap senang. Karena kamu masih ada, walau
hanya dalam ruang percakapan yang sederhana. Tapi penuh arti.
Sekarang bulan Juli. Ada satu acara yang sudah aku tunggu-tunggu
selama kurang lebih empat tahun yaitu wisuda. Tapi anehnya, hari yang dulu
terasa begitu istimewa, sekarang justru terasa biasa saja. Nggak ada yang
benar-benar spesial. Karena dulu, aku pernah berangan kamu akan hadir di acara
itu. Nggak perlu lama. Cukup semenit saja. Sekadar memastikan kamu ada. Melihat
aku akhirnya sampai di titik ini. Tapi aku juga sadar, kamu nggak mungkin
datang. Mungkin memang nggak akan pernah mau.
Sekarang aku sudah lulus. Tapi kamu masih jadi bagian dari cerita
yang belum sempat selesai. Atau mungkin, memang nggak perlu selesai. Karena ada
yang cukup untuk disimpan, bukan untuk dimiliki. Karena malam dan hujan seperti
ini selalu tahu, siapa yang diam-diam masih aku rindukan.
Beberapa bulan lalu, saat Idul Fitri, aku sempat ingin
menghubungimu. Entah sekadar menyapa atau menjalin silaturahmi. Hari itu
harusnya jadi momen yang tepat untuk saling memaafkan. Tapi jariku tiba-tiba
berhenti. Ada rasa takut yang muncul begitu saja. Takut kamu risih, takut kamu
nggak suka, takut kamu mikir yang macam-macam. Dan akhirnya, niat itu cuma
tinggal niat.
Setelah kita hilang komunikasi beberapa bulan, akhirnya aku
berpikir untuk menghubungimu lagi. Bukan karena aku berharap banyak, tapi lebih
karena ada hal yang belum benar-benar selesai di dalam diriku sendiri. Pesan
itu sebenarnya sudah lama kutulis, tapi masih berbentuk draft selama beberapa
hari. Sampai akhirnya, di satu malam saat aku lagi bareng teman-temanku, aku
memberanikan diri untuk mengirimnya. Biar kalau kecewa, aku masih bisa
pura-pura bahagia. Tapi tetap aja, malam seperti ini yang bikin semuanya
kembali terasa.
Mungkin memang tidak semua hal harus dimiliki untuk bisa berarti.
Kadang, cukup tahu bahwa seseorang pernah hadir di fase penting hidup kita, itu
saja sudah cukup. Aku nggak tahu apakah kamu juga sempat mengingatku di
sela-sela kesibukanmu, seperti aku yang diam-diam masih menyelipkanmu dalam
doaku. Tapi yang pasti, cerita tentangmu akan tetap ada. Bukan untuk
dilanjutkan, hanya untuk dikenang dengan tenang.
Some
people stay in our hearts, even if they no longer stay in our lives.
huhu deep banget yang ini, suka bacanya
BalasHapus