Mereka, dan Masa yang Tak Akan Sama Lagi
Lingkar Kecil di Tengah Desa – Kamulan, 10 Januari 2024
Ada kalanya kita nggak sadar sedang ada di momen paling berharga,
sampai semuanya selesai dan cuma tinggal jadi cerita. Kebersamaan yang awalnya
terasa biasa, lama-lama berubah jadi bagian dari diri, yang meskipun sederhana,
tapi sulit banget dilupain. Bukan karena tempatnya, tapi karena orang-orangnya.
Ada masa dalam hidup yang rasanya cuma sekali. Bukan karena
momennya mewah atau luar biasa, tapi karena orang-orang di dalamnya terlalu
berarti. Kayak KKN kemarin, yang awalnya kupikir hanya soal tugas kuliah,
program kerja, dan laporan harian, ternyata diam-diam jadi ruang tumbuh, tempat
tertawa, dan rumah kecil yang tak terduga.
Kalau ditanya apa yang paling aku ingat dari KKN, aku nggak akan
jawab tentang program kerja, dokumentasi, atau laporan harian. Aku akan jawab:
kebersamaan. Lingkar kecil yang nggak pernah aku rencanakan, tapi entah
bagaimana tumbuh jadi tempat ternyaman di masa-masa paling asing.
Awal masa KKN, aku ngerasa nggak punya teman. Kelompokku campur
dari berbagai fakultas. Hari pertama, aku sedih banget, ngerasa nggak nyaman
sama kelompok sendiri. Tapi lama-kelamaan, aku nggak nyangka... dari satu desa
yang asing dan satu kelompok yang awalnya terasa acak, aku bisa nemu lingkar
pertemanan sehangat itu.
Nisa, Ulfa, Reni, Lisa, Rosa, Risma. Enam nama yang awalnya cuma
muncul di daftar kehadiran grup WA KKN, berubah jadi enam sosok yang aku temui
setiap hari, bangun tidur sampai mau tidur lagi. Kita bukan circle yang
dibentuk karena selera atau hobi yang sama, tapi karena keadaan. Dan justru
karena itu, semuanya terasa tulus.
Bareng-bareng kita lewatin pagi yang sibuk, siang yang panas, malam
yang kadang dingin tapi rame karena tawa. Kita pernah capek, kesel, bahkan
nangis juga. Tapi nggak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada yang nyautin
obrolan, ngajak bercanda, ngajak main, meskipun habis kesel sama divisi
masing-masing.
Aku masih inget banget gimana Nisa yang super kalem, selalu nemenin
ke sana ke mari, bantuin ini-itu. Ulfa yang paling cantik dan paling semangat
kalau urusan masak bareng. Reni yang super cuek, pendiem tapi pengertian dan kalau
udah kenal, seru poll. Lisa, si urat malu hilang, suka ngelakuin hal random dan
selalu punya jokes receh yang keluar di waktu nggak tepat. Rosa, anak
komunikasi dengan suara sekecil semut tapi jago public speaking. Dan Risma...
yang paling sering jadi tempat curhat semua orang, karena dia selalu bisa
dengerin tanpa nge-judge.
Malam-malam panjang yang kita habiskan bareng, kadang cuma duduk di
depan posko sambil menatap suasana malam, ngobrolin hal nggak penting, main
Uno, makan bareng, atau sekadar diam tapi bareng-bareng, itu semua sekarang
jadi memori yang aku peluk erat.
Aku tahu, setelah ini kita akan kembali ke dunia masing-masing.
Mungkin nggak ada lagi kita yang ngantri mandi di kamar mandi belakang, nggak
ada lagi kita yang rame cuma karena air mati, atau heboh cuma karena hujan dan
jemuran belum diangkat.
Tapi meskipun kebersamaan ini nggak akan keulang dengan cara yang
sama, aku bersyukur banget pernah ada di dalamnya. Pernah jadi bagian dari
lingkar kecil itu. Pernah merasa sepenuhnya diterima tanpa harus menjelaskan
siapa diri kita.
Terima kasih... udah jadi rumah sementara yang hangat.
Kalau nanti kita ketemu lagi, walaupun cuma sekadar ngopi. Aku
harap kita masih bisa ketawa bareng untuk hal-hal kecil yang dulu pernah jadi
dunia kita. Tapi ya... udah lama banget loh kita nggak kumpul-kumpul bareng.
Katanya mau nongki bareng, tapi kok nyatanya cuma jadi hoaks, sih... huhuhu.
Dunia nyata menunggu. Skripsi, kerja, dan semua rutinitas dewasa
yang pelan-pelan bakal bikin kita sibuk, menjauh, dan mungkin lupa hal-hal
kecil yang dulu jadi keseharian. Tapi di tengah semua itu, aku akan selalu
ingat, bahwa pernah ada masa, ketika dunia terasa ringan karena kita tertawa
bersama.
Dan meski kebersamaan ini nggak bakal keulang dengan cara yang
sama, aku bersyukur...
pernah ada di lingkar itu.
Beberapa
pertemuan memang tidak untuk diulang, hanya untuk dikenang
Komentar
Posting Komentar